Rabu, 27 Juni 2012

suluh sejarah kalimantan


 
Berikut ini ringkasan isi bab 1 dari buku suluh sejarah kalimantan yaitu silsilah (sejarah lama), yang meliputi tentang Lambung Mangkurat, Perpindahan kerajaan, Sejarah Sukadana, dan Riwayat Pontianak.

LAMBUNG MANGKURAT
Riwayat ringkas tentang salsilah raja-raja banjar atau lumruh disebut orang Hikayat Lembu Mangkurat (Lambung Mangkurat) adalah sebagai berikut :
Dinegeri keeling ada seorang sudagar besar, namanya saudagar Mangkubumi dan isterinya Sitira. Anak saudagar itu bernama Empu Djatmika dan isterinya Sira Mangoentoer. Nama anak Empu Djatmika yaitu Empu mandastana dan Lembu Mangkurat (Lambung Mangkurat).
Ketika saudagar Mangkubumi sakit, ia berpesan kepada Empu Jatmika yaitu apabila ia nanti telah meninggal,Empu jatmika harus segera berpindah dari negeri keling mencari suatu tempat kediaman yang tanahnya panas dan wangi baunya,karena akan mendapat malabencana nantinya. Setelah saudagar Mangkubumi meninggal dan setelah selesai dikerjakan orang mayatnya. Empu jatmika pun segera berkemas dan berlayar mencari kediaman baru. Tentang urusan berlayar berpindah tempat itu diserahkannya kepada 2 orang hulubalangnya,Arja megatsari,temenggung tanah djiwa dan kepada juru pedagang Wiramartas ( menurut keterangan dalam silsilah, bahwa Wiramartas itu seorang yang pandai bermacam-macam bahasa).
Selang beberapa lamanya berlayar,sampailah Empu Djatmika di ujung tanah dan berlabuh disitu. Pada waktu malam hari, Empu djatmika bermimpi mendengar suara ayahnya berkata begini :… Hai anakku Empu Djatmika,naiklah engkau ke darat, nanti engkau akan mendapat tempat tanahnya panas sperti bara api dan wangi baunya seperti bunga pudak.
Pada keesokkan harinya segera Empu Djatmika naik kedarat, mencari tempat yang seperti mimpinya itu. Akhirnya ia menemukan tempat itu. Segera ia perintahkan mendirikan sebuah candi di tempat itu: kemudian didirikan istana dengan balairung dan pengadapan serta beberapa buah rumah perbendaharaan. Negeri yang bdidirikannya  itu di beri nama Nagaradipa dan mpu Djatmioka bergelar Mahardja di candi.
Karena Empu Djatmika takut ketulahan bergelar Maharadja,maka ia memerrintahkan orang membikin patung dari kayu cendana dan ditaruh di dalam cani yang dipuja sebagai ganti raja di dalam nagaradipa. Setelah sekian lamanya patung dari kayu cendana dipuja pun menjadi lapuk,maka diganti dengan patung gangsa bikinan orang tionghoa.
Pada suatu hari maharadja di candi berpesan kepada dua orang anaknya Ampu mandastana dan lambung mangkurat, katanya :..apabila aku nanti telah mati hendaklah patung gangsa itu buang kelaut dan anakku berdua pergi bertapa minta seorang radja yang ditunjukkan oleh Dewa Batara menguasai Nagaradipa dengan sekalian jajahannya.
Tidak berapa lama Empu djatmika pun meniinggal. Segeralah Empu Mandastana dan Lambung Mangkurat bertapa ke pegunungan. Namun 2 tahun lamanya tidak dapat hasil apa-apa. Pada suatu malam Lambung Mangkurat mendengar suara ayahnya:.. Hai anakku Lambung Mangkurat, bikinlah sebuah rakit dari batang pisang saba gantung pada tiap penjuru rakit itu mayang pinang. Kemudian waktu tengah malam duduklah engkau didalamnya dengan pakaian serba putih dan terus hanyutkan takit itu di tengah-tengah arus yang deras. Nanti di luhak bagaya engakau nanti akan bertemu dengan seorang puteri di dalam buih, puteri itulah yang akan menjadi raja di nagaradipa.
Pada keesokkan harinya , segeralah dikerjakan oleh Lambung Mangkurat  apa yang ada dalam mimpinya itu. Dia mendengar suara dari dalam buih, puteri tersebut ialah puteri junjung buih, ia berkata akan bersedia menjadi raja di nagaradipa namun disediakan lebih dahulu balai pedudusan pemandian raja-raja batung batulis yang ada di gunung batu piring dan balai itu musti selesai dikerjakan oleh orang dalam sehari dan mengerjakan itu tidak ada boleh memakai perkakas besi. Selain itu,juga disediakan sehelai kain langgundi yang ditenun oleh 40 orang bujang teruna selesai dalam sehari juga. Setelah selesai balai pendudukan dain kain langgundi, keluarlah puteri junjung buih dari dalam buih dan diangkat menjadi raja di nagaradipa.
Pada suatu malam, Lambung Mangkurat bermimpi mendengar suara ayahnya yaitu menyuruh Lambung Mangkurat  pergi ke majapahit meminta Raden Putra kepada Raja Majapahit. Karena Raden Putra itulah yang berjodoh dengan putri junjung buih.
 Lambung mangkurat pergi ke majapahit, diterima oleh ratu majapahit dan permintaannya memebawa Raden Putra di kabulkan. Dalam perjalanan berlayar membawa Raden Putra di Pandamaran (pembatanan) tiba-tiba banawa si Perabajaksa tidak bergerak lagi. Raden putra pun akan terjun kedlam laut untuk menghalau naga putih yang menahan banawa mereka, ia berkata apabila 3 hari ia belum timbul, kerjakanlah puja Bantan.Setelah Raden Putra naik di Benawa lalu bergelar pangeran Suryanata.
Menikahlah pangeran suryanata dengan puteri junjung buih, dan berputera dua orang laki-laki yaitu Raden surjaganggawangsa dan Raden Surjawangsa. Pada suatu hari, Pangeran Suryanata berbicara di tengah orang banyak, menerangkan bahwa baginda akan pulang ketempat lama ( dikayangan). Beliau memperingati mereka sekalian:
1.      Jangan meniru pakaian bangsa lain, melainkan yang ditiru hanya pakaian dan adat istiadat di kerajaan Majapahit.
2.      Jangan mengebonkan atau berdagang sahang, karena itu perusahaan akhirnya membawa kemunduran negeri.
3.      Jangan ditangkap atau diperbudakkan orang-orang ditimpa bahaya karam dilautan.
Setelah habis berbicara, dengan sekejap itu juga gaiblah pangeran Suryanata bersama Putri Junjung Buih.
Raden Surjaganggawangsa diangkat menjadi raja dan bergelar Maharadja Surjaganggawangsa. Adapu Raden Surjawangsa diangkat jadi Dipati dan bergelar Pangeran Surjawangsa, yang menjadi Mangkubumi tetap Lambung Mangkurat. Arja megatsari dibantu oleh Djaksa, patih baras, patih pasi, patih luhur, dan patih duhu. Menteri empat : Sang Paniba Sagara,Sang Pangaruntung Manau, Sang Pembelah Batung dan Sang djampang sasak.
Mahardja Surja Ganggawangsa bermimpi mendengar suara ayahnya, menyuruh baginda kawin dengan anak Dajang Dipradja. Adapun Dajang Dipradja itu anak oleh Arja Malingkan di Tangga Hulin (Ammuntai). Dajang Dipradja lalu dikawainkan oleh Maharadja dengan Lambung Mangkurat. Kemudian Dajang Dipradja hamil, tetapi 15 bulan belum juga membabar putera. Anak dalam kandungan itu berkata ia mau keluar dari lambung kiri ibunya. Karena anak dalam kandungan itu akan berjodoh dengan Maharadja Surjaganggawangsa, segera dibelahnya lambung kiri Dajang Dipradja dan ia pun mati. Anaknya yang bergelar Puteri Huripan ( Puteri Kuripan) keluar dengan selamat.
Mahardja Surja Ganggawangsa kawin dengan Puteri huripan mendapat puteri seorang yang dinamakan Puteri kalarang Sari, kemudian puteri itu dikawinkan dengan pangeran Surjawangsa mendapat lagi putera bernama Puteri Kalungsu, dan dikawinkan dengan Raden Tjarang Lalean. Pada masa itu Arya Megatsari dan Tumenggung Tatahdjiwa meninggal dunia. Setelah ghaib Mahardja Surja Ganggawangsa dan Puteri Huripan. Diangkatlah Raden Tjarang Lalelan menjadi Radja, baginda berputera bergelar Raden sung-sang. Tiada lama Raden Tjarang Lalelan menjadi radja, gaiblah ia. Sementara Raden Sekar sung-sang lagi kecil, lambung mangkurat lah yang memegang pemerintah di Negaradipa.
Pada suatu hari, puteri kalungsu di ganggu oleh  raden sekar sung-sang,ia sangat marah lalu dipukulnya kepala raden sekar sung-sang dengan senduk gangsa sehingga berlumuran darah. Maka raden sekar sung-sang melarikan diri dan ia berganti nama menjadi Ki Mas Lelana.
Setelah beberapa lamanya, Lambung mangkurat tertarik dengan Ki Mas Lelana dan ia pun inigin mengawinkan Ki Mas Lelana dengan Putri Kalungsu. Akhirnya mereka pun menikah. Pada suatu hari, Puteri Kalungsu bertanya karena melihat kunat di kepala Ki Mas Kelana dan Ki Mas Kelana pun menceritakannya. Ternyata Ki Mas Kelana adalah Raden Sekar sung-sang yang merupakan anak dari puteri  kalungsu. Raden sekar sung-sang menangis dan meminta ampun kepada ibunya. Semenjak itu Raden sekar sung-sang berganti nama dan bergelar Raden Sari Kaburangan. Kemudian menjadi Radja di Negaradipa bergelar Maharadja Sari Kaburangan.
Setahun kemudian Maharadja Sari Kaburangan berpindah ke Muara Hulak dan disebut nam negeri baru Negara Daha. Adapun Bandar lama di Muara Rampiau di pindah di Muara Bahan. Tidak lama setelah itu, gaiblah puteri kalungsu dan pada waktu itu juga, Lambung Mangkurat meninggal dunia. Yang mengganti Lambung Mangkurat menjadi Mangkubumi yaitu Arja Taranggana anak oleh Arja Megatsari. Selam kerajaan di pindah Negara daha, jajahan bertambah besar.
Maharadja Sari Kaburangan berputra 2 orang laki-laki Raden Sukarama dan Raden bangawan. Setelah sampai pada waktunya akan meninggalkan dunia, gaiblah Maharadja Sari Kaburangan.Yang menggantikannya adalah raden Sukarama dan bergelar Maharadja Sukarama, baginda berputra 4 orang anak, Raden Paksa, Raden Pandjang, Raden Bali, dan Raden Mambang. Setelah keempat Raden itu dewasa, bergelar masing-masing pangeran Mangkubumi, Pangeran, Tumenggung, pangeran Bagalung, dan Pangeran Djajadewa. Adapun pangeran Djajadewa setelah kematian anak lalu ghaib.
Kemudian Maharadja Sukarama mendapat anak perempuan dinamakan Puteri Galuh, setelah besar dikawinkan dengan Raden Manteri Djaja, anak oleh Raden Bangawan. Adapun raden mantra Djaja selama beriteri Puteri galuh mendapat seorang putera dinamakan Raden Samudera, ayah dan ibunya (Raden Mantri Djaja dan Puteri Galuh) meninggal dunia dan semenjak itu Raden Samudera dipelihara oleh neneknya Maharadja Sukarama.
Pada suatu hari diumumkan oleh Maharadja Sukarama, yaitu apabila kelak baginda telah meninggal dunia, Raden samudera lah yang akan menjadi radja. Pangeran Tumenggung dan pangeran Bagalung merasa tidak senang hati. Pangeran mangkubumi menurut saja apa kehendak ayahnya. Semenjak itu Raden Samudera menjadi musuh pangeran tumenggung paling besar. Ketika Raden Samudera berumur 7 tahun, Maharadja Sukarama meninggal dunia.
Arja Taranggana merasa khawatir dengan  Raden Samudera, maka ia member nasehat kepada Raden Samudera agar melarikan diri dari Negara Daha, bersembunyi ke muara bahan, Sarapat, Balandean atau di kuin. Dan nasehat tersebut diterima dan dilakukan oleh Raden Samudera.
Selama Raden Samudera meninggalkan Negara Daha. Pangeran mangkubumi di angkat orang menjadi radja. Oleh karena Pangeran Tumenggung tidak diangkat menjadi radja, jadi ia selalu menaruh dendam kepada Pangeran Mangkubumi. Pada suatu hari, pangeran tumenggung menyuruh orang bernama saban untuk membunuh pangeran Mangkubumi. Pada saat pangeran mangkubumi menarik nafas pengahabisan,ia mnerangkan kepada orang banyak bahwa perbuatan itu anjuran dari Pangeran Tumenggung.Kemudian, pangeran Tumenggung diangkat menjadi radja dan puteranya Raden Bagawan dikawinkan dengan Puteri Sari bulan, putera pangeran Mangkubumi.
Diceritakan orang Patih Masih di Kuwin mendengar kabar bahwa Raen Samudera, cucu oleh Maharadja Sukarama, ada di watas Kuwin. Patih Masih segera pergi mencari dan bertemu dengan Raden Samudera, lalu raden Samudera itu dipelihara dan dihormatinya sebagai seorang anak radja. Pada suati hari Patih Masih mengadakan Perjamuan besar, Raden Samudera mau mnerangkan dengan terus terang kepada orang banyak tentang perbuatan durhaka dari Pangeran Tumenggung. Semenjak itu Raden Samudera diangkat menjadi raja dan bergelar Pangeran Samudera. Adapun rumah Patih Masih dijadikan Astana raja dan kerajaan baru itu diberi nama Kerajaan bandarmasih dan nama rakyatnya orang Bandarmasih.
Pada suatu hari, pangeran Tumenggung beserta pengiringnya lengkap bersenjata menyerang kerajaan Bandarmasih. Terjadilah pertempuran antara kedua belah pihak. Kedua pihak  tidak berhentinya serang menyerang, beberapa bulan lamanya berkelahi belum ada ketentuannya pihak mana yang menang. Dengan terjadinya permusushan diantara negaradipa dan kerajaan Banjar, pencarian anak negeri menjadi susah dan barang makanan berkurang.
Patih Masih member nasehat kepada pangeran samudera, supaya minta bantuan dari Sultan Demak di jawa. Nasihat itu diterima baik oleh Pangeran Samudera. Sultan Demak berjanji akan mengirim bantuan ke Banjar, asal saja Pangeran Samudera dan sekalian pengiringnya masuk islam. Permintaan Sultan Demak diterima baik oleh Pangeran Samudera, kemudian Sultan Demak mengirim seribu orang jawa ke banjar beserta seorang Panghulu untuk mengislamkan orang Banjar.
Medan perkelahian diantara rakyat Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung mulai dari Rantauwan Sangjang Gantung sampai di NegaraDaha. Kesudahannya diambil putusan oleh kedua belah pihak, supaya berkelahi raja sama raja dan patih sama patih. Pangeran samudera tampil kemuka bertentangan dengan Pangeran Tumenggung. Tiba-tiba Pangeran Tumenggung  merasa rawan di dalam hati melihat Pangeran Samudera dan segera memeluk dan mencium sambil menangis pada pangeran Samudera, serta minta dimaafkan atas kesalahannya. Sekalian alat kerajaan daha dengan istana dan perbendaharaannya diserahkan kepada Pangran Samudera dan baginda diangkat menjadi Ratu di Negara Daha.
Pangeran samudera setelah pulang dari Negara Daha ke Banjarmasin lalu di beri gelar oleh seorang ulama bangsa Aarab dengan Sultan Suruansyah (Penambahan Batu Habang). Setelah Sultan Suriansyah meninggal dunia diganti oleh putranya yaitu Sultan Rahmat-Illah (Penambahan Batu Putih). Baginda berputra 3 orang yaitu: Pangeran Hidayat, Raden Zakaria, dan pangeran Demang. Kemudian yang mengganti jadi raja ialah Pangeran Hidayat bergelar Sultan Hidayatullah ( Penambahan Batu Hirang).
Salah seorang dari bangsa Biadju, bernama si Sarang memeluk agama islam dan kawin dengan Saudara tiri Sultan Muistainbillah ( Marhum Panambahan). Dizaman Sultan Muistainbillah pernah orang belanda menembaki kota Banjarmasin dari ilir Pulau Kembang, sehingga kota Banjarmasin banyak mendapat kerusakan. Oleh karena itu kerajaan banjar dipindah di Pamakuan (Sungai tabuk). Setelah sepuluh tahun di Pamakuan lalu dipindah ke batang mangapan, istana di bikin di Sungai Tambangan. Sepuluh tahun di tambangan pindah ke batang banyu kemudian ke Muara halangan (Martapura) lalu mendirikan mesjid dan padalaman (keraton martapura) kayu tangi.
Raden seridewa dari Sukadana, Putera ratu bagus, cucu oleh Sultan Hidayatullah kawin dengan Puteri Gilang Puteri dari pangran Dipati Anta kusuma, cucu oleh marhum Panambahan. Setlah itu pulang ke sukadana.
Kotawaringin menjadi hak pangeran Dipati anta kusuma, yang menjadi wakil raja disana ialah Dipatinggendeng.
Marhum panambahan diganti oleh puteranya Pangeran Dipati Tuha dan bergelar Sultan Inajat’illah.
Pangeran dipati anta kusuma bergelar ratu kota waringin dan tetap berdiam di kita waringin.
Sultan Inajat’illah diganti oleh putera Pangeran Kusuma Alam dan bergelar  Sultan saidillah (ratu anum). Kemudian berturut-turut berganti oleh : Sultan Tahlil’illah, sultan Tahmid-illah, Sultan Suleman,dan Sultan Adam Alwassik Billah.
Sultan suleman meninggal dunia dalam tahun 1825 dan sultan adam meninggal dunia pada tanggal 1 Nopember 1857 di Martapura.
Pangeran Tamjidillah diangkat menjadi sultan muda berdiam di Banjarmasin dan pada tanggal 25 juli 1859 turun dari kerajaan banjar. Maka pada tanggal 11 juli 1860 jatuh kerajaan banjar menjadi Gubernemen Belanda.
Pada tanggal 8 Maret 1862 Pangeran Hidayat dengan anak isterinya  dan pengiring di pindah tempat ke jawa Cianjur.
Pada tanggal 8 maret 1863 kolonel happe menjadi pembesar yang tertinggi dan perang banjar berhenti.
Sampai disinilah diterangkan salsilah raja-raja banjar.


Perpindahan Kerajaan
o   Mula-mula : Ampu Djatmika beserta 2 orang anaknya Ampu Mandastana dan Lambung mangkurat membikin candi di Marampiau (Margasari)
o   Kemudian             : Ampu Djatmika berpindah tempat ke Kuripan (amuntai) membikin candi Agung
o   Dalam tahun 1438 : pindah ke Negara dipa selalu mendirikan bandaran (pelabuhan) di marampiau- Pabaungan ( Marga sari). Semenjak itu berdiri kerajaan yang pertama, dibawah pemerintahan Pamgeran Surya Anata yang beristeri Junjung buih.
o   Tahun 1530 : kerajaan Negara dipa dipindah kenegara Daha dan Bandaran dipindah Kekota Arja Taranggana (Marabahan)
o   Tahun 1588 : Zaman pangran tumenggung pemerintah pusat kerajaan Negara daha dipindah ke danau panggang.
o   Tahun 1595 : Kerajaan Negara daha di kuasai oleh Pangeran samudera (Sultan Suriansyah) pemerintah pusat dipindah ke Bandarmasih (Banjarmasin)
o   Tahun 1612 : bandarmasih dibakar oleh kompeni Belanda. Pusat kerajaan dipindah ke kayu tangi (Telok selong- Martapura)
o   Tahun 1630 : Kbakaran besar di Banjarmasin. Pusat kota dipindah ke Pamakuan ( sungai tabuk) melingkungi Kampung keliling benteng.
o   Tahun 1650 : Pindah kebatang Mangapan (muara tambangan) Martapura
o   Tahun 1766 : mulai mendirikan keratin di Martapura
o   Tahun 1771 : kerajaan banjar pindah ke martapura
o   Tahun 1780 : Didirikan Balai Seba dalam keraton
o   Tahun 1808 : Zaman panambahan Sulaiman. Kedudukan pemerintahan pusat dipindah ke Karang Intan
o   Tahun 1825 : Zaman Panambahan Adam.pemerintahan pusat ditetapkan di Martapura
o   Tahun 1855 : dalam keraton Martapura didirikan beberapa buah bangunan yang diperhiasi dengan ukiran.


Sejarah Sukadana
Berikut ini ringkasan asalnya ada negeri Sukadana :

      Sewaktu Maharadja Brawidjaja di Majapahit masih muda, beliau mempunyai sakit menular,hinnga ia me-ilahkan diri dalam sebuah rakit. Rakit Maharadja Brawidjaja terapung-apung samapi di Borneo-Barat dimuara Sungai pawan (Katapan). Tiba-tiba timbul seekor ikan sakti, ikan adong (belang uling) namanya, mejilat seluruh tubuh Maharadja Brawidjaja, hingga beliau sembuh dari penyakit menular itu. Kemudian dating seekor buaya, Sarasa namanya yang mengatakan ingin bersahabat dengan Maharadja Brawidjaja, serta berjanji memberi makanan secukupnya.
Pada suatu hari Maharadja Brawidjaja pergi berburu denga 2 ekor anjing yang dibawanya berkeliling sebuah padang yang luas. Tiba-tiba anjing tersebut menjalak-jalak pada sebuah gerombolan paring. Dengan seketika keluar seorang puteri yang cantik dari sela paring yaitu Puteri Buton.
Menurut riwayat setelah Maharadja Brawidjaja beristeri puteri Buton. Ketika beliau milir, maka tiba-tiba bertemu kembang terate; keluar dari kembang itu seorang putrid Lindong buah. Setelah Maharadja Brawidjaja beristeri Puteri Lindong buah, maka beliau membikin rumah dan mulai membuka sawah dekat kajung (matan). Bangsa dayak yang diam di hulu sungai menobatkan Maharadja Brawidjaja sebagai raja suku dayak. Brawidjaja berputra seorang laki-laki Gusti Likar dinobatkan menjadi Radja di Meliau.
Diseluruh alam dayak nama Brawidjaja dikenal orang dan diakui sebagai raja besar. Setelah beberapa lama Brawidjaja beristana di kajung, maka beliau mendirikan negeri baru yang dinamakan Sukadana.


Riwayat Pontianak
Tahun 17 35 datang di Matan orang Arab, nama Sjerif Husein ibn Ahmad El-kadri, sebagai alim ulama. Raja matan giri laja mengawinkan Sjerif Husein dengan seorang perempuan dayak.
Pada suatu hari Raja Giri Laja, amarah kepada Sjerif Husein karena berani menegur kesalahan raja. Telah membunuh seorang anakhoda di muara sungai simpang. Setelah terjadi peristiwa yang demikian, maka Sjerif Husein, menyingkirkan diri dari matan,berpindah ke mampawa diam dibawah perlindungan Daeng Menambon. Kemudian Sjerif Husein diangkat menjadi mangkubumi, serta diberi gelar Tuan Besar.
Tahun 1742, maka isteri Sjerif Husein melahirkan anak laki-laki dinamakan Abdurrahman. Setelah Syerif Abdurrahman dewasa maka ia kwain dengan anak Daeng Menambon.
Kemudian Syerif Abdurrahman pergi ke Banjarmasin dan akhirnya kawin dengan saudara perempuan Ratu Sarib Anum. Syerif Abdurrahman membeli kapal layar yang dinamakan TIANG-SAMBUNG dipersenjatai sebagai kapal perang dengan Mariam goernada, lila, dan Pamoras.
Stelah mengembara beberapa lama, maka Syerif Abdurrahman pulang, di Mampawa banyak harta, setibanya beliau di Mampawa maka kebetulan orang menyeratus hari almarhum Sjerif Husein.
Tahun 1771, maka Syerif Abdurrahman berangkat dari mampawa dengan 15 buah perahu pergi ke sungai Kapuas-Buhang. Diujung tanjung, simpang tiga anatara sungai Kapuas Buhang dan muara sungai Landak disanalah perahu Syerif Abdurrahman berhenti akan membuka hutam dan membikin kampung.
Sebelumnya dimulai,maka untuk memenuhi adat laluhur, ujung tanjung itu ditembak beberapa kali. Kemudian Syerif Abdurrahman melompat ke darat dengan parang terhunus diiringkan oleh orang banyak, (Tempat tersebut menurut riwayat orang bahari, kediaman Pontianak – hantu beranak).