Berikut
ini ringkasan isi bab 1 dari buku suluh sejarah kalimantan yaitu silsilah (sejarah lama), yang meliputi tentang Lambung
Mangkurat, Perpindahan kerajaan, Sejarah Sukadana, dan Riwayat Pontianak.
LAMBUNG MANGKURAT
Riwayat
ringkas tentang salsilah raja-raja banjar atau lumruh disebut orang Hikayat
Lembu Mangkurat (Lambung Mangkurat) adalah sebagai berikut :
Dinegeri
keeling ada seorang sudagar besar, namanya saudagar Mangkubumi dan isterinya
Sitira. Anak saudagar itu bernama Empu Djatmika dan isterinya Sira Mangoentoer.
Nama anak Empu Djatmika yaitu Empu mandastana dan Lembu Mangkurat (Lambung
Mangkurat).
Ketika
saudagar Mangkubumi sakit, ia berpesan kepada Empu Jatmika yaitu apabila ia
nanti telah meninggal,Empu jatmika harus segera berpindah dari negeri keling
mencari suatu tempat kediaman yang tanahnya panas dan wangi baunya,karena akan
mendapat malabencana nantinya. Setelah saudagar Mangkubumi meninggal dan
setelah selesai dikerjakan orang mayatnya. Empu jatmika pun segera berkemas dan
berlayar mencari kediaman baru. Tentang urusan berlayar berpindah tempat itu
diserahkannya kepada 2 orang hulubalangnya,Arja megatsari,temenggung tanah
djiwa dan kepada juru pedagang Wiramartas ( menurut keterangan dalam silsilah,
bahwa Wiramartas itu seorang yang pandai bermacam-macam bahasa).
Selang
beberapa lamanya berlayar,sampailah Empu Djatmika di ujung tanah dan berlabuh
disitu. Pada waktu malam hari, Empu djatmika bermimpi mendengar suara ayahnya
berkata begini :… Hai anakku Empu Djatmika,naiklah engkau ke darat, nanti
engkau akan mendapat tempat tanahnya panas sperti bara api dan wangi baunya
seperti bunga pudak.
Pada
keesokkan harinya segera Empu Djatmika naik kedarat, mencari tempat yang
seperti mimpinya itu. Akhirnya ia menemukan tempat itu. Segera ia perintahkan
mendirikan sebuah candi di tempat itu: kemudian didirikan istana dengan
balairung dan pengadapan serta beberapa buah rumah perbendaharaan. Negeri yang
bdidirikannya itu di beri nama
Nagaradipa dan mpu Djatmioka bergelar Mahardja di candi.
Karena
Empu Djatmika takut ketulahan bergelar Maharadja,maka ia memerrintahkan orang
membikin patung dari kayu cendana dan ditaruh di dalam cani yang dipuja sebagai
ganti raja di dalam nagaradipa. Setelah sekian lamanya patung dari kayu cendana
dipuja pun menjadi lapuk,maka diganti dengan patung gangsa bikinan orang
tionghoa.
Pada
suatu hari maharadja di candi berpesan kepada dua orang anaknya Ampu mandastana
dan lambung mangkurat, katanya :..apabila aku nanti telah mati hendaklah patung
gangsa itu buang kelaut dan anakku berdua pergi bertapa minta seorang radja
yang ditunjukkan oleh Dewa Batara menguasai Nagaradipa dengan sekalian
jajahannya.
Tidak
berapa lama Empu djatmika pun meniinggal. Segeralah Empu Mandastana dan Lambung
Mangkurat bertapa ke pegunungan. Namun 2 tahun lamanya tidak dapat hasil
apa-apa. Pada suatu malam Lambung Mangkurat mendengar suara ayahnya:.. Hai
anakku Lambung Mangkurat, bikinlah sebuah rakit dari batang pisang saba gantung
pada tiap penjuru rakit itu mayang pinang. Kemudian waktu tengah malam duduklah
engkau didalamnya dengan pakaian serba putih dan terus hanyutkan takit itu di
tengah-tengah arus yang deras. Nanti di luhak bagaya engakau nanti akan bertemu
dengan seorang puteri di dalam buih, puteri itulah yang akan menjadi raja di
nagaradipa.
Pada
keesokkan harinya , segeralah dikerjakan oleh Lambung Mangkurat apa yang ada dalam mimpinya itu. Dia
mendengar suara dari dalam buih, puteri tersebut ialah puteri junjung buih, ia
berkata akan bersedia menjadi raja di nagaradipa namun disediakan lebih dahulu
balai pedudusan pemandian raja-raja batung batulis yang ada di gunung batu
piring dan balai itu musti selesai dikerjakan oleh orang dalam sehari dan
mengerjakan itu tidak ada boleh memakai perkakas besi. Selain itu,juga
disediakan sehelai kain langgundi yang ditenun oleh 40 orang bujang teruna
selesai dalam sehari juga. Setelah selesai balai pendudukan dain kain
langgundi, keluarlah puteri junjung buih dari dalam buih dan diangkat menjadi
raja di nagaradipa.
Pada
suatu malam, Lambung Mangkurat bermimpi mendengar suara ayahnya yaitu menyuruh
Lambung Mangkurat pergi ke majapahit
meminta Raden Putra kepada Raja Majapahit. Karena Raden Putra itulah yang
berjodoh dengan putri junjung buih.
Lambung mangkurat pergi ke majapahit, diterima
oleh ratu majapahit dan permintaannya memebawa Raden Putra di kabulkan. Dalam
perjalanan berlayar membawa Raden Putra di Pandamaran (pembatanan) tiba-tiba
banawa si Perabajaksa tidak bergerak lagi. Raden putra pun akan terjun kedlam
laut untuk menghalau naga putih yang menahan banawa mereka, ia berkata apabila
3 hari ia belum timbul, kerjakanlah puja Bantan.Setelah Raden Putra naik di
Benawa lalu bergelar pangeran Suryanata.
Menikahlah
pangeran suryanata dengan puteri junjung buih, dan berputera dua orang
laki-laki yaitu Raden surjaganggawangsa dan Raden Surjawangsa. Pada suatu hari,
Pangeran Suryanata berbicara di tengah orang banyak, menerangkan bahwa baginda
akan pulang ketempat lama ( dikayangan). Beliau memperingati mereka sekalian:
1. Jangan
meniru pakaian bangsa lain, melainkan yang ditiru hanya pakaian dan adat
istiadat di kerajaan Majapahit.
2. Jangan
mengebonkan atau berdagang sahang, karena itu perusahaan akhirnya membawa
kemunduran negeri.
3. Jangan
ditangkap atau diperbudakkan orang-orang ditimpa bahaya karam dilautan.
Setelah
habis berbicara, dengan sekejap itu juga gaiblah pangeran Suryanata bersama
Putri Junjung Buih.
Raden
Surjaganggawangsa diangkat menjadi raja dan bergelar Maharadja
Surjaganggawangsa. Adapu Raden Surjawangsa diangkat jadi Dipati dan bergelar
Pangeran Surjawangsa, yang menjadi Mangkubumi tetap Lambung Mangkurat. Arja
megatsari dibantu oleh Djaksa, patih baras, patih pasi, patih luhur, dan patih
duhu. Menteri empat : Sang Paniba Sagara,Sang Pangaruntung Manau, Sang Pembelah
Batung dan Sang djampang sasak.
Mahardja
Surja Ganggawangsa bermimpi mendengar suara ayahnya, menyuruh baginda kawin
dengan anak Dajang Dipradja. Adapun Dajang Dipradja itu anak oleh Arja
Malingkan di Tangga Hulin (Ammuntai). Dajang Dipradja lalu dikawainkan oleh
Maharadja dengan Lambung Mangkurat. Kemudian Dajang Dipradja hamil, tetapi 15
bulan belum juga membabar putera. Anak dalam kandungan itu berkata ia mau
keluar dari lambung kiri ibunya. Karena anak dalam kandungan itu akan berjodoh
dengan Maharadja Surjaganggawangsa, segera dibelahnya lambung kiri Dajang
Dipradja dan ia pun mati. Anaknya yang bergelar Puteri Huripan ( Puteri
Kuripan) keluar dengan selamat.
Mahardja
Surja Ganggawangsa kawin dengan Puteri huripan mendapat puteri seorang yang
dinamakan Puteri kalarang Sari, kemudian puteri itu dikawinkan dengan pangeran
Surjawangsa mendapat lagi putera bernama Puteri Kalungsu, dan dikawinkan dengan
Raden Tjarang Lalean. Pada masa itu Arya Megatsari dan Tumenggung Tatahdjiwa
meninggal dunia. Setelah ghaib Mahardja Surja Ganggawangsa dan Puteri Huripan.
Diangkatlah Raden Tjarang Lalelan menjadi Radja, baginda berputera bergelar
Raden sung-sang. Tiada lama Raden Tjarang Lalelan menjadi radja, gaiblah ia.
Sementara Raden Sekar sung-sang lagi kecil, lambung mangkurat lah yang memegang
pemerintah di Negaradipa.
Pada
suatu hari, puteri kalungsu di ganggu oleh
raden sekar sung-sang,ia sangat marah lalu dipukulnya kepala raden sekar
sung-sang dengan senduk gangsa sehingga berlumuran darah. Maka raden sekar
sung-sang melarikan diri dan ia berganti nama menjadi Ki Mas Lelana.
Setelah
beberapa lamanya, Lambung mangkurat tertarik dengan Ki Mas Lelana dan ia pun
inigin mengawinkan Ki Mas Lelana dengan Putri Kalungsu. Akhirnya mereka pun
menikah. Pada suatu hari, Puteri Kalungsu bertanya karena melihat kunat di
kepala Ki Mas Kelana dan Ki Mas Kelana pun menceritakannya. Ternyata Ki Mas
Kelana adalah Raden Sekar sung-sang yang merupakan anak dari puteri kalungsu. Raden sekar sung-sang menangis dan
meminta ampun kepada ibunya. Semenjak itu Raden sekar sung-sang berganti nama
dan bergelar Raden Sari Kaburangan. Kemudian menjadi Radja di Negaradipa
bergelar Maharadja Sari Kaburangan.
Setahun
kemudian Maharadja Sari Kaburangan berpindah ke Muara Hulak dan disebut nam
negeri baru Negara Daha. Adapun Bandar lama di Muara Rampiau di pindah di Muara
Bahan. Tidak lama setelah itu, gaiblah puteri kalungsu dan pada waktu itu juga,
Lambung Mangkurat meninggal dunia. Yang mengganti Lambung Mangkurat menjadi
Mangkubumi yaitu Arja Taranggana anak oleh Arja Megatsari. Selam kerajaan di
pindah Negara daha, jajahan bertambah besar.
Maharadja
Sari Kaburangan berputra 2 orang laki-laki Raden Sukarama dan Raden bangawan.
Setelah sampai pada waktunya akan meninggalkan dunia, gaiblah Maharadja Sari
Kaburangan.Yang menggantikannya adalah raden Sukarama dan bergelar Maharadja
Sukarama, baginda berputra 4 orang anak, Raden Paksa, Raden Pandjang, Raden
Bali, dan Raden Mambang. Setelah keempat Raden itu dewasa, bergelar
masing-masing pangeran Mangkubumi, Pangeran, Tumenggung, pangeran Bagalung, dan
Pangeran Djajadewa. Adapun pangeran Djajadewa setelah kematian anak lalu ghaib.
Kemudian
Maharadja Sukarama mendapat anak perempuan dinamakan Puteri Galuh, setelah
besar dikawinkan dengan Raden Manteri Djaja, anak oleh Raden Bangawan. Adapun
raden mantra Djaja selama beriteri Puteri galuh mendapat seorang putera
dinamakan Raden Samudera, ayah dan ibunya (Raden Mantri Djaja dan Puteri Galuh)
meninggal dunia dan semenjak itu Raden Samudera dipelihara oleh neneknya
Maharadja Sukarama.
Pada
suatu hari diumumkan oleh Maharadja Sukarama, yaitu apabila kelak baginda telah
meninggal dunia, Raden samudera lah yang akan menjadi radja. Pangeran
Tumenggung dan pangeran Bagalung merasa tidak senang hati. Pangeran mangkubumi
menurut saja apa kehendak ayahnya. Semenjak itu Raden Samudera menjadi musuh
pangeran tumenggung paling besar. Ketika Raden Samudera berumur 7 tahun,
Maharadja Sukarama meninggal dunia.
Arja
Taranggana merasa khawatir dengan Raden
Samudera, maka ia member nasehat kepada Raden Samudera agar melarikan diri dari
Negara Daha, bersembunyi ke muara bahan, Sarapat, Balandean atau di kuin. Dan
nasehat tersebut diterima dan dilakukan oleh Raden Samudera.
Selama
Raden Samudera meninggalkan Negara Daha. Pangeran mangkubumi di angkat orang
menjadi radja. Oleh karena Pangeran Tumenggung tidak diangkat menjadi radja,
jadi ia selalu menaruh dendam kepada Pangeran Mangkubumi. Pada suatu hari,
pangeran tumenggung menyuruh orang bernama saban untuk membunuh pangeran
Mangkubumi. Pada saat pangeran mangkubumi menarik nafas pengahabisan,ia
mnerangkan kepada orang banyak bahwa perbuatan itu anjuran dari Pangeran
Tumenggung.Kemudian, pangeran Tumenggung diangkat menjadi radja dan puteranya
Raden Bagawan dikawinkan dengan Puteri Sari bulan, putera pangeran Mangkubumi.
Diceritakan
orang Patih Masih di Kuwin mendengar kabar bahwa Raen Samudera, cucu oleh
Maharadja Sukarama, ada di watas Kuwin. Patih Masih segera pergi mencari dan
bertemu dengan Raden Samudera, lalu raden Samudera itu dipelihara dan
dihormatinya sebagai seorang anak radja. Pada suati hari Patih Masih mengadakan
Perjamuan besar, Raden Samudera mau mnerangkan dengan terus terang kepada orang
banyak tentang perbuatan durhaka dari Pangeran Tumenggung. Semenjak itu Raden
Samudera diangkat menjadi raja dan bergelar Pangeran Samudera. Adapun rumah
Patih Masih dijadikan Astana raja dan kerajaan baru itu diberi nama Kerajaan
bandarmasih dan nama rakyatnya orang Bandarmasih.
Pada
suatu hari, pangeran Tumenggung beserta pengiringnya lengkap bersenjata
menyerang kerajaan Bandarmasih. Terjadilah pertempuran antara kedua belah
pihak. Kedua pihak tidak berhentinya
serang menyerang, beberapa bulan lamanya berkelahi belum ada ketentuannya pihak
mana yang menang. Dengan terjadinya permusushan diantara negaradipa dan
kerajaan Banjar, pencarian anak negeri menjadi susah dan barang makanan
berkurang.
Patih
Masih member nasehat kepada pangeran samudera, supaya minta bantuan dari Sultan
Demak di jawa. Nasihat itu diterima baik oleh Pangeran Samudera. Sultan Demak
berjanji akan mengirim bantuan ke Banjar, asal saja Pangeran Samudera dan
sekalian pengiringnya masuk islam. Permintaan Sultan Demak diterima baik oleh
Pangeran Samudera, kemudian Sultan Demak mengirim seribu orang jawa ke banjar
beserta seorang Panghulu untuk mengislamkan orang Banjar.
Medan
perkelahian diantara rakyat Pangeran Samudera dengan Pangeran Tumenggung mulai
dari Rantauwan Sangjang Gantung sampai di NegaraDaha. Kesudahannya diambil
putusan oleh kedua belah pihak, supaya berkelahi raja sama raja dan patih sama
patih. Pangeran samudera tampil kemuka bertentangan dengan Pangeran Tumenggung.
Tiba-tiba Pangeran Tumenggung merasa
rawan di dalam hati melihat Pangeran Samudera dan segera memeluk dan mencium
sambil menangis pada pangeran Samudera, serta minta dimaafkan atas kesalahannya.
Sekalian alat kerajaan daha dengan istana dan perbendaharaannya diserahkan
kepada Pangran Samudera dan baginda diangkat menjadi Ratu di Negara Daha.
Pangeran
samudera setelah pulang dari Negara Daha ke Banjarmasin lalu di beri gelar oleh
seorang ulama bangsa Aarab dengan Sultan Suruansyah (Penambahan Batu Habang).
Setelah Sultan Suriansyah meninggal dunia diganti oleh putranya yaitu Sultan
Rahmat-Illah (Penambahan Batu Putih). Baginda berputra 3 orang yaitu: Pangeran
Hidayat, Raden Zakaria, dan pangeran Demang. Kemudian yang mengganti jadi raja
ialah Pangeran Hidayat bergelar Sultan Hidayatullah ( Penambahan Batu Hirang).
Salah
seorang dari bangsa Biadju, bernama si Sarang memeluk agama islam dan kawin
dengan Saudara tiri Sultan Muistainbillah ( Marhum Panambahan). Dizaman Sultan
Muistainbillah pernah orang belanda menembaki kota Banjarmasin dari ilir Pulau
Kembang, sehingga kota Banjarmasin banyak mendapat kerusakan. Oleh karena itu
kerajaan banjar dipindah di Pamakuan (Sungai tabuk). Setelah sepuluh tahun di
Pamakuan lalu dipindah ke batang mangapan, istana di bikin di Sungai Tambangan.
Sepuluh tahun di tambangan pindah ke batang banyu kemudian ke Muara halangan
(Martapura) lalu mendirikan mesjid dan padalaman (keraton martapura) kayu
tangi.
Raden
seridewa dari Sukadana, Putera ratu bagus, cucu oleh Sultan Hidayatullah kawin
dengan Puteri Gilang Puteri dari pangran Dipati Anta kusuma, cucu oleh marhum
Panambahan. Setlah itu pulang ke sukadana.
Kotawaringin
menjadi hak pangeran Dipati anta kusuma, yang menjadi wakil raja disana ialah
Dipatinggendeng.
Marhum
panambahan diganti oleh puteranya Pangeran Dipati Tuha dan bergelar Sultan
Inajat’illah.
Pangeran
dipati anta kusuma bergelar ratu kota waringin dan tetap berdiam di kita
waringin.
Sultan
Inajat’illah diganti oleh putera Pangeran Kusuma Alam dan bergelar Sultan saidillah (ratu anum). Kemudian
berturut-turut berganti oleh : Sultan Tahlil’illah, sultan Tahmid-illah, Sultan
Suleman,dan Sultan Adam Alwassik Billah.
Sultan
suleman meninggal dunia dalam tahun 1825 dan sultan adam meninggal dunia pada
tanggal 1 Nopember 1857 di Martapura.
Pangeran
Tamjidillah diangkat menjadi sultan muda berdiam di Banjarmasin dan pada
tanggal 25 juli 1859 turun dari kerajaan banjar. Maka pada tanggal 11 juli 1860
jatuh kerajaan banjar menjadi Gubernemen Belanda.
Pada
tanggal 8 Maret 1862 Pangeran Hidayat dengan anak isterinya dan pengiring di pindah tempat ke jawa
Cianjur.
Pada
tanggal 8 maret 1863 kolonel happe menjadi pembesar yang tertinggi dan perang
banjar berhenti.
Sampai
disinilah diterangkan salsilah raja-raja banjar.
Perpindahan Kerajaan
o
Mula-mula : Ampu Djatmika beserta 2 orang anaknya Ampu Mandastana dan Lambung
mangkurat membikin candi di Marampiau (Margasari)
o
Kemudian : Ampu Djatmika berpindah tempat ke Kuripan (amuntai)
membikin candi Agung
o
Dalam tahun 1438 : pindah ke Negara dipa
selalu mendirikan bandaran (pelabuhan) di marampiau- Pabaungan ( Marga sari).
Semenjak itu berdiri kerajaan yang pertama, dibawah pemerintahan Pamgeran Surya
Anata yang beristeri Junjung buih.
o
Tahun 1530 : kerajaan Negara dipa
dipindah kenegara Daha dan Bandaran dipindah Kekota Arja Taranggana (Marabahan)
o
Tahun 1588 : Zaman pangran tumenggung
pemerintah pusat kerajaan Negara daha dipindah ke danau panggang.
o
Tahun 1595 : Kerajaan Negara daha di
kuasai oleh Pangeran samudera (Sultan Suriansyah) pemerintah pusat dipindah ke
Bandarmasih (Banjarmasin)
o
Tahun 1612 : bandarmasih dibakar oleh
kompeni Belanda. Pusat kerajaan dipindah ke kayu tangi (Telok selong-
Martapura)
o
Tahun 1630 : Kbakaran besar di
Banjarmasin. Pusat kota dipindah ke Pamakuan ( sungai tabuk) melingkungi
Kampung keliling benteng.
o
Tahun 1650 : Pindah kebatang Mangapan
(muara tambangan) Martapura
o
Tahun 1766 : mulai mendirikan keratin di
Martapura
o
Tahun 1771 : kerajaan banjar pindah ke
martapura
o
Tahun 1780 : Didirikan Balai Seba dalam
keraton
o
Tahun 1808 : Zaman panambahan Sulaiman.
Kedudukan pemerintahan pusat dipindah ke Karang Intan
o
Tahun 1825 : Zaman Panambahan
Adam.pemerintahan pusat ditetapkan di Martapura
o
Tahun 1855 : dalam keraton Martapura
didirikan beberapa buah bangunan yang diperhiasi dengan ukiran.
Sejarah Sukadana
Berikut ini ringkasan asalnya ada negeri
Sukadana :
Sewaktu
Maharadja Brawidjaja di Majapahit masih muda, beliau mempunyai sakit
menular,hinnga ia me-ilahkan diri dalam sebuah rakit. Rakit Maharadja
Brawidjaja terapung-apung samapi di Borneo-Barat dimuara Sungai pawan
(Katapan). Tiba-tiba timbul seekor ikan sakti, ikan adong (belang uling)
namanya, mejilat seluruh tubuh Maharadja Brawidjaja, hingga beliau sembuh dari
penyakit menular itu. Kemudian dating seekor buaya, Sarasa namanya yang
mengatakan ingin bersahabat dengan Maharadja Brawidjaja, serta berjanji memberi
makanan secukupnya.
Pada suatu hari Maharadja Brawidjaja
pergi berburu denga 2 ekor anjing yang dibawanya berkeliling sebuah padang yang
luas. Tiba-tiba anjing tersebut menjalak-jalak pada sebuah gerombolan paring.
Dengan seketika keluar seorang puteri yang cantik dari sela paring yaitu Puteri
Buton.
Menurut riwayat setelah Maharadja Brawidjaja
beristeri puteri Buton. Ketika beliau milir, maka tiba-tiba bertemu kembang
terate; keluar dari kembang itu seorang putrid Lindong buah. Setelah Maharadja
Brawidjaja beristeri Puteri Lindong buah, maka beliau membikin rumah dan mulai
membuka sawah dekat kajung (matan). Bangsa dayak yang diam di hulu sungai
menobatkan Maharadja Brawidjaja sebagai raja suku dayak. Brawidjaja berputra
seorang laki-laki Gusti Likar dinobatkan menjadi Radja di Meliau.
Diseluruh alam dayak nama Brawidjaja
dikenal orang dan diakui sebagai raja besar. Setelah beberapa lama Brawidjaja
beristana di kajung, maka beliau mendirikan negeri baru yang dinamakan
Sukadana.
Riwayat Pontianak
Tahun 17 35 datang di Matan orang Arab,
nama Sjerif Husein ibn Ahmad El-kadri, sebagai alim ulama. Raja matan giri laja
mengawinkan Sjerif Husein dengan seorang perempuan dayak.
Pada suatu hari Raja Giri Laja, amarah
kepada Sjerif Husein karena berani menegur kesalahan raja. Telah membunuh
seorang anakhoda di muara sungai simpang. Setelah terjadi peristiwa yang
demikian, maka Sjerif Husein, menyingkirkan diri dari matan,berpindah ke
mampawa diam dibawah perlindungan Daeng Menambon. Kemudian Sjerif Husein
diangkat menjadi mangkubumi, serta diberi gelar Tuan Besar.
Tahun 1742, maka isteri Sjerif Husein
melahirkan anak laki-laki dinamakan Abdurrahman. Setelah Syerif Abdurrahman
dewasa maka ia kwain dengan anak Daeng Menambon.
Kemudian Syerif Abdurrahman pergi ke
Banjarmasin dan akhirnya kawin dengan saudara perempuan Ratu Sarib Anum. Syerif
Abdurrahman membeli kapal layar yang dinamakan TIANG-SAMBUNG dipersenjatai
sebagai kapal perang dengan Mariam goernada, lila, dan Pamoras.
Stelah mengembara beberapa lama, maka
Syerif Abdurrahman pulang, di Mampawa banyak harta, setibanya beliau di Mampawa
maka kebetulan orang menyeratus hari almarhum Sjerif Husein.
Tahun 1771, maka Syerif Abdurrahman
berangkat dari mampawa dengan 15 buah perahu pergi ke sungai Kapuas-Buhang.
Diujung tanjung, simpang tiga anatara sungai Kapuas Buhang dan muara sungai
Landak disanalah perahu Syerif Abdurrahman berhenti akan membuka hutam dan
membikin kampung.
Sebelumnya dimulai,maka untuk memenuhi
adat laluhur, ujung tanjung itu ditembak beberapa kali. Kemudian Syerif
Abdurrahman melompat ke darat dengan parang terhunus diiringkan oleh orang
banyak, (Tempat tersebut menurut riwayat orang bahari, kediaman Pontianak –
hantu beranak).